Rebo Wekasan

Gambar : Ilustrasi Rebo Wekasan
A. Tradisi Rebo Wekasan
Rebo Wekasan, juga dikenal sebagai Rebo Pungkasan, adalah sebuah tradisi budaya yang sangat penting di beberapa daerah di Indonesia, terutama di Jawa. Tradisi ini dilakukan pada hari Rabu terakhir dalam bulan Safar, yang merupakan bulan kedua dalam penanggalan Hijriyah[1][3].
B. Pengertian dan Sejarah
1) Pengertian Rebo Wekasan
Rebo Wekasan secara harfiah berarti "Rabu
terakhir" dalam bahasa Jawa. Kata "Rebo" merujuk pada hari Rabu,
sedangkan "Wekasan" berarti "akhir" atau
"pungkasan"[1].
Rebo Wekasan memiliki akar sejarah yang kuat, dimulai sejak berdirinya Desa Suci yang dipelopori oleh Sunan Giri. Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga merupakan simbol dari interaksi sosial dan spiritual masyarakat. Masyarakat Suci mengaktualisasikan dan mengekspresikan diri mereka melalui perayaan ini, yang telah berlangsung selama berabad-abad dan terus berkembang hingga saat ini [12]
Tujuan utama dari pelaksanaan Rebo Wekasan
adalah sebagai upaya tolak bala, yaitu menangkal berbagai macam jenis bahaya
yang diyakini akan datang. Tradisi ini juga berfungsi sebagai peringatan untuk
meminta doa kepada Allah agar bisa menjauhkan diri dari marabahaya[2][6].
Berbagai kegiatan tradisional dilakukan selama
hari ini, antara lain:
- Sholat Tolak Bala: Sholat sunah yang
dilakukan bersama-sama untuk memohon perlindungan dari Allah[2][3].
- Dzikir Bersama: Zikir bersama-sama untuk
meningkatkan kesadaran spiritual[2].
- Selamatan: Berbagi makanan, seperti gunungan
atau apem, untuk memperkuat solidaritas sosial[2][3].
- Makanan Tradisional: Makanan tradisional
seperti apem (cimplo) yang dibuat dari adonan tepung beras, tepung singkong,
ragi, dan air kelapa, disajikan dengan kuah gula merah atau kinca[2][3].
C. Dasar-Dasar Rebo Wekasan dari Al-Qur'an dan Al-Hadits
Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda:
"Tidaklah berkumpul suatu kaum mereka shalat pada hari Rabu terakhir di
bulan Safar kecuali Allah akan menjauhkan mereka dari bala' (musibah)"[4].
Hadits ini menekankan pentingnya shalat sunah pada hari Rabu terakhir di bulan
Safar untuk mendapatkan perlindungan dari Allah.
Tradisi Rebo Wekasan tersebar di beberapa
daerah di Indonesia, seperti Gresik, Probolinggo, Banten, Kudus, Tegal, Cirebon,
dan sebagainya. Di beberapa daerah, tradisi ini memiliki perbedaan dalam
pelaksanaannya, seperti di Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Rebo Pungkasan
dianggap sebagai perayaan berlimpahnya ikan[1][3].
Di beberapa kalangan NU, salat sunah lidaf’il
bala mulai mengalami perubahan dengan disarankan tidak lagi diniatkan untuk
memperingati Rebo Wekasan, tetapi sebagai salat sunah sebagaimana salat lainnya
saja[3].
Citations:
[1]
https://www.detik.com/jateng/budaya/d-6894977/mengenal-tradisi-rebo-wekasan-masyarakat-jawa-bulan-safar
[2] https://www.nu.or.id/opini/tentang-tradisi-rebo-wekasan-PiWre
[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Rebo_wekasan
[4]
https://bimbinganislam.com/hadits-tentang-rebo-wekasan-shahih/
[5]
https://kumparan.com/kabar-harian/asal-usul-rebo-wekasan-tradisi-tolak-bala-masyarakat-jawa-21Ak8ZRBFfs
[6]
https://www.liputan6.com/citizen6/read/5395206/mengenal-tradisi-rebo-wekasan-serta-mitosnya-yang-dipercaya-banyak-orang
[7]
https://ejournal.stiqwalisongo.ac.id/index.php/albayan/article/download/4/4
[8] https://kumparan.com/berita-terkini/hukum-dan-hadits-rebo-wekasan-rabu-terakhir-di-bulan-safar-1wc9HFYcgmT
[9]
https://jatim.nu.or.id/keislaman/penjelasan-lebih-rinci-terkait-rabu-wekasan--SFk6O
[10]
https://jatim.nu.or.id/keislaman/ibadah-khusus-rebo-wekasan-bagaimana-hukumnya-on6Xd
[11]
https://journal.walisongo.ac.id/index.php/teologia/article/download/3639/pdf
[12] Chalik, A. (2016). Agama dan Politik dalam Tradisi Perayaan Rebo Wekasan. IBDA: Jurnal Kajian Islam dan Budaya, 14(1), 13-30.
----------------
Terus dukung media kami agar bisa terus memberi kemanfaatan dengan follow akun:
IG : @aliyahnawakartika
#Aliyahnawakartika
#MadrasahHebat
#MadrasahMajuBermutuMendunia